https://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/issue/feedPhronesis: Jurnal Teologi dan Misi2026-07-03T17:22:06+07:00Tony Salurantetonysalurante@gmail.comOpen Journal Systems<p>Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi is a scientific journal in the field of theology and mission. Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi has been managed by the Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta since 2018 in print. Starting in 2020, the first semester starts with the Open Journal System. The journal Phronesis: Theology and mission contains scientific articles in the fields of theology, biblical, Systematics, and Mission that promote the novelty of science in the field of Theology. Indonesia is a Christian context experiencing development that is open with ideas that need to be contextualized but maintains biblical teachings.</p>https://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/719 Praktik Doa di Ruang Digital2026-06-15T07:47:38+07:00Ferdinand Fernando Silaenferdinandsilaen04@gmail.comRiris Johanna Siagianririsjohannasiagian@stt-hkbp.ac.id<p>Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji sebuah fenomena baru dalam spiritualitas Kekristenan di masa kini, yaitu praktik doa di ruang digital. Kehadiran ruang digital dalam berbagai media sosial perlahan menggeser pengalaman konservatif dalam spiritualitas Kekristenan yang kemudian memasuki era baru. Tulisan ini memberi warna positif dalam spiritualitas di ruang digital yang adaptif dan kolaboratif. Fenomena praktik doa di ruang digital menjadi bentuk baru dalam spiritualitas Kekristenan di era modern. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi bukan berarti menggeser pola doa tradisional. Pendekatan studi literatur pada penelitian ini menggunakan pemikiran dari Paul Chambers yang mengemukakan tentang sekularisasi, Peter Horsfield tentang mediasi iman melalui media dan Scott R. Paeth tentang teologi publik untuk menegaskan bahwa kehadiran ruang digital bukan menjadi ancaman bagi spiritualitas Kekristenan. Praktik doa di ruang digital dapat menjadi sarana baru ataupun alat pendukung yang memungkinkan perluasan pelayanan bagi gereja. Doa di ruang digital harus dipahami sebagai bentuk spiritualitas kontemporer yang akan memperkaya ekspresi iman secara pribadi ataupun komunal tanpa menjadi pengganti persekutuan doa secara fisik yang selama ini sudah menjadi ritual umum di gereja ataupun di dalam persekutuan. Maka, ruang digital dapat dipandang sebagai cara transformatif yang akan membantu jemaat untuk membangun relasi kepada Tuhan dan sesama dengan cakupan yang lebih luas.</p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Ferdinand Silaen, Riris Johanna Siagianhttps://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/767Missio Dei and the challenge of prosperity practices2026-05-05T20:17:11+07:00Richard Ondicho Otisorichard.ondicho@sley.fi<p>This article offers a sharply critical missiological examination of the growing dominance of prosperity-oriented practices within churches in the Global South, with particular focus on East Africa. It argues that the prosperity gospel has effectively displaced the Missio Dei—God’s mission of reaching sinners with the saving message of Jesus Christ—by substituting the gospel of salvation with a transactional religion of wealth acquisition. Drawing on the works of David Bosch, Lesslie Newbigin, Kate Bowler, and Paul Gifford, the article demonstrates that prosperity teaching has become more attractive to many churchgoers than the gospel of repentance and redemption, a trend that should alarm every serious theologian and pastor. In East Africa, vulnerable believers have been manipulated into selling their properties, emptying their savings, and surrendering their livelihoods to churches and pastors who promise miraculous financial returns—effectively reducing God to an Automated Teller Machine or a cosmic lottery. This article contends that such practices constitute a fundamental betrayal of the church’s missional vocation, a form of spiritual abuse, and an affront to the character of God. It proposes a prophetic recovery of Missio Dei grounded in the proclamation of salvation, justice for the poor, and the dismantling of exploitative ecclesial structures.</p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Richard Ondicho Otisohttps://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/801Nilai Huma dan Pikukuh Karuhun sebagai Titik Temu Injil dan Tradisi Baduy dalam Perspektif Teologi Kontekstual2026-05-05T16:18:13+07:00Theresia Cania Putritheresiacaniaputrii@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai budaya dalam masyarakat Baduy, khususnya konsep <em>Huma</em> (alam) dan <em>Pikukuh Karuhun</em> (aturan leluhur) sebagai titik temu dalam upaya kontekstualisasi Injil. Permasalahan utama yang diangkat adalah, adanya ketegangan antara pewartaan Injil dengan pelestarian tradisi lokal yang sering dianggap bertentangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan analisis teologis-kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai <em>Huma</em> yang menekankan harmoni dengan alam sementara <em>Pikukuh Karuhun</em> sebagai pedoman hidup memiliki keselarasan dengan prinsip-prinsip Alkitabiah seperti ketaatan, kesederhanaan, dan tanggung jawab terhadap ciptaan. Oleh karena itu, nilai-nilai ini dapat menjadi jembatan dalam mengkomunikasikan Injil secara kontekstual tanpa menghilangkan identitas budaya lokal. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan teologi kontekstual serta membuka ruang dialog antara iman Kristen dan budaya tradisional.</p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Theresia Cania Putrihttps://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/803Kajian Teologis Terhadap Pandangan Masyarakat Toraja Tentang Mimpi2026-06-08T12:48:52+07:00Adi Putraaddiepoetra7@gmail.comEsap Veryesapveri2@gmail.com<p>Artikel ini menyajikan evaluasi teologis komparatif mengenai makna mimpi dalam Alkitab dan persepsi masyarakat Toraja, menyoroti adanya 'gap' kontekstual yang signifikan akibat perbedaan sejarah, tradisi, dan zaman. Dalam Alkitab, mimpi dipandang sebagai sarana wahyu ilahi langsung yang mengungkapkan kehendak dan kedaulatan Allah, seperti yang dicontohkan dalam mimpi-mimpi Yusuf (anak Yakub), Salomo, Daniel, Yusuf (suami Maria), dan istri Pilatus, yang berfungsi sebagai bimbingan, peringatan, atau nubuat. Sebaliknya, persepsi masyarakat Toraja, yang dikaji melalui hasil wawancara, menunjukkan bahwa mimpi merupakan media komunikasi dengan alam roh dan leluhur , memberikan petunjuk untuk kehidupan sehari-hari atau ritus adat. Namun, terdapat pergeseran pandangan di kalangan generasi muda yang cenderung melihat mimpi sebagai refleksi alam bawah sadar atau "bunga tidur" semata. Secara teologis, perbandingan ini menunjukkan bahwa Alkitab menekankan Allah sebagai sumber tunggal dan berdaulat dari mimpi yang memiliki bobot teologis , sementara masyarakat Toraja memadukan kepercayaan spiritual dengan interpretasi yang lebih modern, sehingga otoritas dan signifikansi teologis mimpi menjadi lebih bervariasi dan ambivalen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun fenomena mimpi bersifat universal, maknanya secara teologis terikat erat pada kerangka keyakinan dan narasi historis masing-masing tradisi.</p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Adi Putra, Esap Veryhttps://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/484ANALYSIS OF SOCIAL PROBLEMATICS Implementation of the Great Commission as a Contribution to Missions in the Indonesian Context2024-05-20T12:26:27+07:00Malik Bambanganmalikbambangan@gmail.comStenly R. Paparangstenlypaparang79@gmail.com<p><em>The Great Commission of the Lord Jesus speaks of the sending out of the disciples by Jesus to go and make disciples of all nations. There is an assumption that its implementation today applies only to disciples of Christ, not to the church, contains only evangelism, and is considered unnecessary. This study identifies the challenges faced in the implementation of the Great Commission, analyzes its contribution to interfaith dialogue and cooperation, and assesses the social impact of the implementation of the Great Commission in the context of Indonesian pluralism. This research uses a qualitative method with a descriptive approach, through the process of collecting data from various literatures and interpreting it to draw conclusions. The results show that there are several challenges and opportunities in the implementation of the Great Commission, including resistance, government regulation, social disparity, economic inequality, and social and religious tensions. </em></p> <p><em> </em></p> <p><em>Keywords: Social Problems, Great Commission, Christian Mission, Pluralism, Indonesia, Interfaith Dialogue, Evangelism</em></p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Malik Bambangan, Stenly R. Paparanghttps://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/707Sinergi Hermeneutik dan Homiletika dalam Khotbah Ekspositori:2025-10-06T08:27:41+07:00Rocky Wongkarrockyswongkar@gmail.comDaud Mannorockyswongkar@gmail.com<p>Khotbah ekspositori merupakan salah satu bentuk pemberitaan firman yang menempatkan teks Alkitab sebagai pusat pesan, dengan tujuan menguraikan makna asli teks dan mengaplikasikannya secara relevan bagi pendengar. Integrasi antara hermeneutik ilmu menafsirkan teks dan homiletika seni menyampaikan khotbah merupakan kunci agar khotbah ekspositori memiliki dampak yang mendalam. Hermeneutik yang akurat memastikan kesetiaan terhadap maksud penulis Alkitab, sementara homiletika yang baik menerjemahkan hasil penafsiran menjadi penyampaian yang hidup dan aplikatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi literatur dan analisis isi terhadap beberapa model khotbah ekspositori yang diterapkan di gereja-gereja. Sumber yang dianalisis meliputi karya akademik dalam bidang hermeneutik, teori homiletika, dan studi empiris tentang dampak khotbah ekspositori terhadap kehidupan jemaat. Data diolah untuk mengidentifikasi prinsip integrasi hermeneutik dan homiletika yang efektif. Analisis menunjukkan bahwa khotbah ekspositori yang berhasil mengintegrasikan hermeneutik dan homiletika memiliki tiga ciri utama: (1) kesetiaan pada teks Alkitab melalui proses eksegesis yang ketat; (2) struktur khotbah yang jelas, logis, dan berpusat pada Kristus; dan (3) penerapan yang relevan terhadap konteks kehidupan jemaat. Hasil studi juga menunjukkan bahwa jemaat yang secara konsisten menerima khotbah ekspositori integratif mengalami pertumbuhan iman yang lebih stabil, peningkatan ketekunan membaca Alkitab, dan keterlibatan yang lebih aktif dalam pelayanan gereja. Integrasi hermeneutik dan homiletika tidak hanya berfungsi menjaga kemurnian pesan Injil, tetapi juga memastikan bahwa kebenaran yang disampaikan mampu mengubah kehidupan pendengar. Khotbah yang lahir dari kombinasi ini menjadi transformatif, bukan sekadar informatif. Sejalan dengan Efesus 4:11–16, pemberitaan Firman yang sehat memampukan jemaat untuk bertumbuh menjadi dewasa secara rohani, tidak terombang-ambing oleh ajaran yang keliru, dan berbuah dalam pelayanan yang matang. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kompetensi hermeneutik dan homiletika dalam kurikulum pendidikan teologi, sehingga pengkhotbah masa depan dapat mengkomunikasikan Firman secara setia dan relevan.</p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Rocky Wongkar, Daud Mannohttps://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/810Dari Teks Biblika ke Konteks Jemaat2026-06-17T09:43:16+07:00Basrianiksun Labudolabudobasrian70@gmail.comJoice Petrus Poliipolii@gmail.comLukas Eklopas Wenieklopas@gmail.comDwi Pujiastuti Rahayurahayu@gmail.comHendrik Benobeno@gmail.com<p>Tulisan ini mengkaji model integratif dalam khotbah ekspositori kontekstual yang menghubungkan teks biblika dengan realitas jemaat secara hermeneutis, teologis, dan pastoral. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana pemberitaan firman dapat tetap setia pada makna asli teks Alkitab sekaligus relevan terhadap dinamika sosial, budaya, dan spiritual jemaat masa kini. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui studi literatur terhadap teori homiletika ekspositori, hermeneutika kontekstual, dan praktik pelayanan gerejawi. Hasil kajian menunjukkan bahwa model integratif menempatkan proses eksegesis sebagai fondasi utama, kemudian dilanjutkan dengan analisis konteks jemaat agar pesan khotbah mampu menjawab kebutuhan konkret pendengar tanpa mengabaikan otoritas Kitab Suci. Dalam kerangka ini, pengkhotbah berperan sebagai mediator yang menafsirkan pesan ilahi ke dalam bahasa dan pengalaman hidup jemaat secara komunikatif dan transformatif. Penelitian ini juga menegaskan bahwa khotbah ekspositori kontekstual bukan sekadar transfer informasi teologis, melainkan sarana pembentukan iman dan perubahan hidup jemaat. Dengan demikian, model integratif ini menawarkan kontribusi penting bagi pengembangan homiletika kontemporer yang relevan, alkitabiah, dan responsif terhadap tantangan pelayanan gereja di tengah perubahan masyarakat.</p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Basrianiksun Labudo, Joice Petrus Polii, Lukas Eklopas Weni, Dwi Pujiastuti Rahayu, Hendrik Benohttps://jurnal.sttsetia.ac.id/index.php/phr/article/view/812“Terlalu Berat Bagiku”2026-05-28T15:21:57+07:00Sara Elvinasaraelvinayahuda@gmail.com<p>Burnout dalam pelayanan sering dipahami sebagai persoalan psikologis yang muncul akibat tekanan pelayanan yang berkepanjangan. Dalam praktiknya, pelayanan kerap dipandang sebagai tuntutan untuk mempertahankan ketahanan rohani yang tinggi, sehingga realitas keterbatasan manusia sering diabaikan. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang melatarbelakangi burnout Musa, memahami respons Allah terhadap Musa, serta relevansinya bagi pelayanan gereja masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan eksegetis-naratif terhadap Bilangan 11:13-15 melalui kajian konteks historis, gramatikal, dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa burnout Musa muncul akibat tekanan komunal, tanggung jawab kepemimpinan yang terpusat pada satu orang, serta akumulasi kelelahan emosional dan spiritual yang berkepanjangan. Keluhan Musa dalam Bilangan 11:13-15 dipahami sebagai ekspresi keterbatasan manusia dalam menghadapi tekanan pelayanan, bukan bentuk pemberontakan terhadap Allah. Respons Allah terlihat melalui tanggung jawab dan dukungan komunitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa burnout dalam pelayanan perlu diatasi melalui tanggung jawab bersama dan ketergantungan kepada Allah. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi perspektif biblika mengenai fenomena burnout dalam konteks pelayanan masa kini.</p>2026-06-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Sara Elvina